12 Desember 2008

Ada Gay di STAN

Ini bukan HOAX.
Keberadaan kaum gay di STAN sampai sekarang menjadi suatu hal yang kontroversial. Opini, Tuduhan, dan segudang pertanyaan sering muncul di lingkungan kampus STAN (Sekolah Tempat Anak Nongkrong). Emang beneran ada komunitas kaum homo (baca: homoseksual) di STAN? Entah benar atau tidak, hal ini masih menjadi misteri buat saya dan beberapa teman lainnya.

Ada gay di STAN, mungkinkah? Semua hal adalah mungkin. Apalagi kampus kedinasan yang satu ini tempat duduk di kelas-kelasnya kebanyakan diduduki oleh mahasiswa bukan mahasiswi. Bayangkan saja kelas dimana tempatku menimba ilmu hanya dihuni oleh tiga orang mahasiswi dari tiga puluh lima penghuni. Satu banding Sepuluh. Sumpe deh. Saking langkanya kayanya rating cewek-cewek STAN pada tinggi-tinggi.
Sepuluh orang mahasiswa bersaing ketat untuk mendapatkan seorang mahasiswi. Belum lagi kalau si mahasiswi sudah punya pacar. Jadi makin ketat deh persaingan untuk mendapatkan seorang pujaan hati. Emang susah hidup di STAN, wanita bagaikan oasis di tengah padang gurun.

Alih-alih karena kelangkaan BBM, eh.. kelangkaan mahasiswi, maka banyak beredar kabar angin, kabar burung, kabar-kabari dan kabar-kabar lainnya yang menyebutkan bahwa memang ada komunitas kaum gay atau homoseksual di STAN. Boleh percaya boleh enggak. Tapi kalo kamu adalah mahasiswa atau mahasiswi STAN, atau alumni STAN, pasti kabar ini sudah nggak asing lagi di telinga kamu.

Tapi jujur loh, saya beneran nggak ngerti apakah bener-bener ada komunitas semacam ini di Kampus STAN (Soalnya saya bukan salah satu anggota dari mereka, he..he..he). Bagi temen-temen yang tahu pasti tentang keberadaan komunitas ini atau memang salah satu anggota dari komunitas ini, silahkan berbagi dengan saya di blog ini. Nanti namanya bisa disamarin ato sekalian aja diekspos biar bisa jadi terkenal dan bisa merekrut anggota, he..he..he.. (INGET! GUE BUKAN SALAH SATU DARI MEREKA)

Berbicara tentang komunitas kaum gay atau homoseksual saya jadi inget seorang teman. Sebut saja namanya Ranggi (bukan nama sebenarnya… ? Nama sebenarnya Naranggih, he..he..he..). Once upon a time, dia cerita kalo ada salah seorang temannya temen kosannya yang hobi suka nonton film gay. Terus tuh orang pada suatu kesempatan ngajakin nonton bareng ke temen kosannya si Ranggi. So… What D’Hell Happen?? Saya nggak tahu lanjutan ceritanya.

Kebenaran adanya komunitas Gay di STAN belum bisa dipastikan. Tapi keberadaan adanya pria yang berorientasi seksual kepada sesama pria pasti ada. Beberapa waktu yang lalu saya sempet internetan di Warnet Lantai 2 yang ada di sebelah Warung Bu Genit, apa yang saya alami? Mau tahu?

Ketika itu nggak sengaja muncul situs Gay begitu saya mulai membuka browser Opera. Oh my God… Ternyata tuh situs dijadiin Starting Homepage-nya Browser. Dahsyatnya lagi, ga Cuma Opera doing, browser yang lain juga disetting kaya gitu. Gile bener, siapakah gerangan yang melakukannya? Gue yakin pasti bukan adminnya, soalnya di warnet situ semua orang bisa mensetting starting homepage browser. Trus siapa donk?

Terlepas dari masalah siapa yang melakukan atau siapa yang menjadi bagian dari komunitas gay atau homoseksual, sebenarnya yang ingin saya bahas disini adalah sudut pandang yang berbeda mengenai keberadaan kaum homo. Dalam tulisan ini yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah bahwa saya bukan homo dan saya nggak menuduh, menuding atau mengjelek-jelekkan kaum homoseksual. Saya berada dalam posisi netral sebagai seorang mahasiswa yang ingin membahas kaum homoseksual dari segi psikologi dan segi ilmiah.

Katanya si wikipedia, Homoseksualitas dapat mengacu kepada:
1. orientasi seksual yang ditandai dengan kesukaan seseorang dengan orang lain mempunyai kelamin sejenis secara biologis atau identitas gender yang sama.
2. perilaku seksual dengan seseorang dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender.
3. identitas seksual atau identifikasi diri, yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku homoseksual atau orientasi homoseksual.

Menurut berbagai sumber yang saya kumpulkan, ternyata ada banyak hal dan banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi gay atau homo. Menurut Bailey et al (dalam Crookss & Baur, 2006) ada beberapa sudut pandang mengenai mengapa seseorang menjadi homoseksual. Yang pertama adalah sudut pandang genetis. Dikatakan bahwa seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang mendukung dirinya mempunyai ketertarikan seksual dengan sesame lelaki.

Yang cukup kontoversial adalah pandangan psikoanalisis. Para tokoh psikoanalisis menyetujui bahwa bayi memiliki arah seksual yang tidak memiliki perbadaan baik laki-lak maupun perempuan hal ini disebut Polymorphus Perverse. Bayi mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang 'pantas' dan dianggap 'tidak pantas'. Misalnya bagi bayi laki-laki, secara tidak sadar, bayi tersebut mengarahkan seksualitasnya menuju objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang secara simbolis melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, maka ada kemungkinan bahwa homoseksualitas akan terjadi.

Teori lainnya menyebutkan setiap orang adalah makhluk seksual, namun setiap orang bukanlah makhluk heteroseksual atau homoseksual. Jadi, hanya melalui pembelajaran, manusia mengetahui bahwa manusia tersebut akan dan bisa menjadi homoseksual atau heteroseksual.

Ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa homoseksual terjadi dari pengaruh sosiokultural. Misalnya seseorang dikatakan seorang homoseksual atau gay padahal pada kenyataannya di adalah laki-laki normal maka secara tidak sadar dia akan berpikir mengenai perkataan lingkungan sekitarnya. Jika terus memikirkah hal tersebut dan berimplikasi pada berkurangnya rasa percaya diri maka dari proses berpikir tersebut, alam bawah sadar akan bisa merubah orang normal tersebut menjadi homoseksual.

Berdasarkan artikel yang pernah saya baca disini, katanya homoseksual tidak lagi dikategorikan sebagai kelainan psikologis. So What???

World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan pada tanggal 17 Mei 1981, dan mengeluarkannya dari daftar penyakit pada tahun 1992 (Kamilia Manaf: 2007). Tapi efeknya dari perilaku homoseksual tidaklah main-main. AIDS adalah salah satunya.

Lalu bagaimana caranya mengatasi perilaku homoseksual?
Didalam Psikoanalisa untuk mengatasi homoseksual menurut Bieber (Soeharko Kasran: 2008) dapat dilakukan dengan terapi selam 350 jam, dari 1/3 homoseksual/ biseksual pria sebanyak 100 orang dapat ditanggulangi setelah 5 tahun. Mac Culloch dengan anticipatoryavoidance conditioning dapat mereduksi homoseksualitas sebanyak 57% selama 2 tahun.

Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar meminimalisir kemungkinana homoseksualitas maka pada saat masih kanak-kanak, individu harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang tua khususnya pada usia 4 tahun keatas. Serang ayah harus memerankan perannya sebagai seorang bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu pola asuh orang tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan individu menjadi homoseksual.
Ingat! Aku Bukan Homo Seperti Kamu... HE..HE..HE..

sumber: disini dan disini


8 komentar:

bakhtiar on Jumat, 12 Desember 2008 13.16.00 GMT mengatakan...

LIngkungan dengan jumlah cowok lebih banyak cewek memang memungkinkan terjadinya hal tersebut . sebentar lagi mau ada organisasi baru nih di STAN . yaitu IMAHO ini bukan organda tapi Ikatan Mahasiswa Homo .

OrangNdut bukan Homo on Kamis, 18 Desember 2008 16.57.00 GMT mengatakan...

Abstain ah..Jujur gw belum pernah nemuin Homo di STAN ini. Dan moga2 gak ketemu, takut....wkwkwk.
Btw, tulisannya bagus lho. Lain kali bikin posting di tamancede.net ya? Trims.

omiyan on Senin, 22 Desember 2008 09.33.00 GMT mengatakan...

kalo bener saya sendiri ga terima ....sangat memprihatinkan kebayang kelak seandainya mereka duduk di jabatan penting di Depkeu...mau jadi apa ntar kedepannya

ali on Selasa, 23 Desember 2008 03.36.00 GMT mengatakan...

yang bener nih...



*elus2 cewek aja deh...

Anonim mengatakan...

ga juga mang ada orang yang orientasinya ga sama, tapi menjadi seorang gay itu pilihan, karena sebenarnya orientasi seperti itu kadang memang pemberian sejak lahir, mungkin pas hamil si ibu ngidam perempuan dll. sebabnya, tapi itu pilihan, orentasi mungki takdir tapi gay itu pilihan, sebuah cobaan yang teramat sulit, bahkan lebih sulit dari yang diduga, jika mengatasi akan menjadi orang amat sangat kuat terutama yang gay murni (bukan biseks), jujur gw jg punya orientasi itu tapi gw berusaha menyukai cewek, dari dulu gw belum bisa suka cowo, tapi ternyata sekarang baru bisa sedikit, sedikit sekali. cuma itu dah bersyukur.

anoa mengatakan...

Homo di STAN itu bener adanya, pernah dimuat di dalam Majalah Civitas (Majalhnya mahasiswa STAN). Bahkan disitu diwawancara langsung ketua ikatannya.
Beberapa sumber terpercaya, mengatakan bahwa memang IMAHO di STAN itu bener2 ada, bahkan mereka mengenalnya namun tidak mengungkapkan siapa orangnya krna kurang baik untuk diungkapkan. Hal ini jelas membuktikan kebenaran adanya komunitas ituw.
Keberadaan komunitas / individu homo di kampus ini tak lepas dari sedikitnya mahasiswi di STAN, namun saat ini mahasiswi di STAN sudah diperbanyak penerimaannya dibandingkan dengan tahun dulu-dulu.

tino on Selasa, 28 April 2009 11.26.00 GMT mengatakan...

ini anak STAN juga..gw pernah ML sama anak STAN angkatan 1998

tino on Selasa, 28 April 2009 11.28.00 GMT mengatakan...

emang bener..end gw pernahMLsama anak STAN kalo gk salah angkatan 1999 di ngekos di kapuk..waktu itu umur gw sekitar 18th..

Posting Komentar

Buat mas dan mbak yang mampir dan download konten yang ada, jangan lupa kasih kasih komentarnya. U comment Ku Follow

 

Download Free Beta Copyright © 2009 Community is Designed by Free Blogger Template